Senin, 18 Februari 2019

FPI-Online.com - Jakarta,

Oleh : Ali Akbar bin Aqil

Bencana datang sililh berganti di negeri ini. Dalam pandangan keimanan, bencana merupakan teguran dan peringatan agar bisa menjadi bahan berkaca. Dengannya kita menelisik apa yang kurang dalam diri kita sebagai hamba yang beriman. 

Bencana dapat terjadi akibat ulah kita. Maksiat, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT , bisa menjadi sebab datangnya. 

Adakah bencana ini terjadi karena keserakahan kita, karena  perilaku semena-mena, melalaikan salat, tidak mengeluarkan zakat, tidak berpuasa di bulan Ramadhan, dan meninggalkan amalan-amalan baik lainnya? Apakah karena kita tak mau peduli dengan kerusakan moral, pergaulan bebas, peredaran miras, narkoba, perjudian, dan sebagainya?

Dikisahkan dalam al-Quran, hukuman-hukuman kepada umat manusia hampir semuanya berupa bencana alam. Beberapa di antaranya tergambar berikut ini:

Allah SWT menenggelamkan kaum Nabi Nuh yang ingkar. Tidak ada yang tersisa kecuali yang menjadi pengikut Nabi Nuh dan naik ke atas kapal. 

_“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."_ (Qs. Hud : 42)

Allah SWT meluluhlantakkan Kaum Nabi Luth yang terlibat dalam LGBT. Allah ratakan dengan tanah.

_“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”_ (Qs. Hud : 82)

Kaum Nabi Saleh dihancurkan dengan suara keras bak halilintar. Mereka mati bergelimpangan. Mayatnya berserakan di dalam rumah. 

_“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya.”_ (Qs. Hud : 67). 

Sedangkan Fir`aun dan pengikutnya ditenggelamkan ke laut tanpa ada yang tersisa. 

_“Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.”_ (Qs. al-A`raf : 136). 

Qarun dibenamkan ke dasar bumi dengan harta bendanya karena kekikiran dan tingkah pongahnya. Sifat sombong membuatnya lupa daratan. Ia merasa bahwa apa yang dimiliki adalah hasil usaha dirinya sendiri, tanpa adanya peran Allah SWT.

_“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”_ (Qs. al-Qashas : 81)

Kaum Nabi Syu`aib binasa akibat gempa bumi yang dahsyat. Begitu dahsyatnya efek gempa sehingga digambarkan seolah tempat tersebut tak pernah ada sebelumnya. Nyaris semuanya hancur. Kerusakannya sangat mengerikan. 

_“(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu´aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu´aib mereka itulah orang-orang yang merugi.”_ (Qs. Al-A`raf : 92)

*Sikap Kita* 

Jangan pernah menganggap dosa yang kita kerjakan akan berlalu begitu saja. Sesungguhnya ada perhitungan yang harus kita hadapi baik di dunia atau di akhirat. Oleh karena itu, ketika musibah datang menimpa kita atau saudara-saudara kita, ada empat hal yang perlu kita lakukan. 

_Pertama_, taubat kepada Allah SWT. Taubat artinya kembali, yakni kembali banyak mengingat kebesaran Allah SWT. 

Setiap saat kita memohon ampun atas perilaku kita sehari-hari. Kita ajak saudara-saudara kita yang masih bergelimang maksiat agar bertaubat kembali ke jalan yang benar. Seruan taubat ini akan menjadi pintu keselamatan, insya Allah. 

Dalam zikir kita memohon ampun. Beristighfar sebanyak-banyaknya. Ketika kita mendengar musibah menimpa, hendaknya semakin membuat kita banyak mengingat Allah SWT dengan cara bertaubat.

_Kedua_, membantu mereka yang kesusahan akibat musibah dan bencana alam. Sedikit atau banyak, bantuan itu akan meringankan beban penderitaan dan memberi kebahagiaan, meski tidak seratus persen bisa langsung menghapus duka mereka. 

Mereka yang terkena musibah menanggung beban yang luar biasa. Ada yang kehilangan sanak famili atau harta benda. Kita kirimkan bantuan untuk menyeka air mata mereka. Kita buat mereka tersenyum merona bahagia. 

Sikap berbagi kebahagiaan didengungkan jauh-jauh hari oleh Nabi SAW. Suatu hari, Nabi menyampaikan empat nasihat. Tiga di antaranya terkait dengan masalah sosial:

_“Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, perkuat ikatan tali persaudaraan, dan laksanakan salat malam di saat orang-orang sedang tidur.”_ (HR. Ibnu Majah).

_Ketiga_, berdoa meminta kemudahan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa kala susah mengampiri kita:

اللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلا وَأَنْتَ إِنْ شِئْتَ جَعَلْتَ الْحَزَنَ سَهْلا

_"Ya Allah, Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah dapat Engkau jadikan mudah, bila Engkau menghendakinya."_

Belajar dari doa ini, semua beban jangan kita pikul 24 jam seorang diri. Tentu akan terasa berat. Sandarkan kepada Allah SWT. Serahkan kepada-Nya, yang pada saatnya akan memudahkan jalan dan menambah kekuatan.

Dalam satu nasihat berharga, kita diajak untuk memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Jika kita ditimpa suatu persoalan, apapun itu, jangan kita mengatakan, “Ya Allah, aku punya masalah besar.” Tapi katakan, “Wahai masalah, aku punya Tuhan yang Maha Besar.” 

Artinya, ketika kita berdoa kepada Allah SWT akan ada tambahan energi dalam diri bahwa Dia yang Maha Besar akan membereskan segala kesusahan kita. Masalah itupun menjadi sesuatu yang kecil bagi Allah. Dengan demikian, kita akan mudah mengatasinya.

_Keempat_, bersabar atas ujian. Sabar itu ada pada hantaman pertama. Saat seseorang terkena musibah lalu ia tetap mengontrol diri, itulah kesabaran. 

Tidak ada yang menginginkan tertimpa suatu musibah, terlebih musibah yang sangat berat. Namun berputus asa jelas bukan solusi. Meratap dan meraung-raung juga bukan jalan keluar. 

Orang yang kuat tidak sekadar mampu mengangkat beban yang berat. Orang yang lebih kuat adalah orang yang mampu tegar dan sabar di tengah musibah yang berat.

Pada satu sisi, bencana membuat kita menepi sejenak merenung keadaan diri. Namun tak berarti kita berdiam diri. Kita ulurkan tangan membantu sesama. Doa dan empati jangan sampai berhenti. Seruan kepedulian tak boleh surut untuk membantu saudara kita di Lombok, Palu, wilayah sekitar, dan di mana saja. Mereka membutuhkan bantuan kita.

*_Pengajar di Pesantren Daruttauhid, Kota Malang/Suara Hidayatullah_

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Suara Hidayatullah, Edisi 10/ XXX/ Februari 2019/ Jumadil Awal 1440)
Sebarkan Lewat:

Unknown

Tambahkan Komentar:

0 komentar, tambahkan komentar Anda