Ahad, 3 Februari 2019


FPI-Online.com - Jakarta, RUU P-KS adalah proyek kaum feminis yang ingin mengubah cara pandang masyarakat Indonesia terhadap isu seksualitas.

Banyak perempuan yang tertipu dengan berbagai tawaran solusi yang diberikan. Atas nama penghapusan kekerasan seksual, masyarakat Indonesia mendukungnya. Padahal jika dicermati, banyak agenda tersembunyi dalam definisi maupun berbagai pasal dalam RUU ini.

Filosofi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS) = Bebaskan tubuh perempuan (dari nilai moral dan agama)

Siapa yang mengontrol tubuh perempuan (contohnya mengatur cara berpakaian) maka anda telah melakukan kekerasan seksual dan harus dipidanakan.
Maka dalam RUU P-KS ini perzinaan, LGBT, pelacuran, aborsi, tidaklah dilarang (bukan kejahatan) apabila dilakukan dengan kesadaran atau tanpa paksaan (by consent). Apakah kita mau mendukung RUU bernafaskan feminis radikal yang justru akan menghancurkan kaum perempuan?
Apakah kita mau mendukung RUU yang bebas dari nilai moral dan agama ini?

Sebagai info, RUU P-KS ini akan menjadi prioritas untuk disahkan di tahun 2019.
Kekerasan seksual tidak sama dengan kejahatan seksual

Kekerasan seksual asasnya : tidak ada paksaan. Aktivitas seksual yang haram jika dilakukan dengan kesadaran (suka sama suka) bukanlah suatu kejahatan

Kejahatan seksual : melanggar norma dalam masyarakat, melanggar moralitas dan nilai - nilai agama.
Oleh karena itu kita harus menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual karena RUU P-KS ini tidak akan mengkriminalisasi para pelaku kejahatan seksual.

#ruupksbukansolusi
#ruupksfeminisradikal

__________________________
 
Sumber :
@AILAIndonesia
Indonesia Family Watch

Fanpage FB : aila indonesia
Instagram : ailaindonesia

#indonesiatanpajil
#itjbogor
Sebarkan Lewat:

Unknown

Tambahkan Komentar:

0 komentar, tambahkan komentar Anda