FPI Online - Poso, Pukul 14.00 Tim relawan FPI Poso bersama MT. Khalid Bin walid menuju kelokasi banjir dilore utara (Napu). Berbagai tantangan yang di hadapi merupakan nilai tersendiri yang tak dapat terlukiskan ketika daya dan upaya sekuat tenaga menghadapi tantangan longsoran yang menurut analisa manusia tak mungkin ada yang bisa lolos menempuh perjalanan, Seorang sahabat bernama Rahmat Soeratinoyo ketika bertemu tim relawan FPI mengatakan, tidak bisa lolos apa lagi membawa motor, kalau jalan kaki mungkin tapi pasti berhari-hari baru sampai. (Selasa, 4 Mai 2020).

Mendengar penuturan Rahmat justru membuat adrenalin tim relawan besikeras membuktikan bahwa kami relawan FPI - Hilmi bukanlah relawan kaleng-kaleng.
Berbekal sangat yang tinggi perlahan relawan berupaya melawan tantangan.

Bagai berkubang degan becek terus merangkak dari satu longsoran ke longsoran lain dan akhirnya sampai di lokasi lembah yang di kenal degan nama HAE. Di sanalah para relawan memesan Indomie telur dan nasi untuk persiapan buka puasa dengan sangat sederhana namun begitu nikmat.

Malam itu tim relawan yang di pimpin oleh ustadz Sugianto kaimudin ketua DPD FPI Sulteng menyepakati untuk melanjutkan perjalanan. Moh. Daffa Dzakiy laskar cilik yang ikut dalam rombongan tak ketinggalan memberi semangat untuk meneruskan perjalanan.

Di Sepajang jalan ini nanti ada longsoran dan sangat sulit Krna mendaki gunung yang tinggi kata ibu pemilik warung kepada tim namun tidak menyurutkan semangat yang sudah berkobar untuk terus berjalan melewati rintangan demi satu tujuan ingin melihat langsung korban banjir bandang di Napu Lore Utara kab. Poso sekaligus memberikan bantuan.

Perjalanan kedua dalam malam ke dua ini ternyata lebih mudah di bandingkan dgn perjalanan hari pertama, semalam dan hari kedua Tepat pukul 00.23 kami tiba di Napu dan mencari tempat nginap dan ternyata muncul masalah baru di penginapan sangat sederhana tersebut menolak kami untuk nginap di karenakan kami berasal dari Poso dan Poso sudah masuk kategori Zona merah covid19.

Rasa kantuk dan capek beradu jadi satu dan sebagian laskar sdh tidur di pinggir jalan. Untungnya ada seorang ibu dan bapak justru siap mengfasilitasi kami nginap dengan membayar Rp. 300.000 untuk 7 orang.

Kamipun istrahat dan besoknya tanggal 5/5/2020 kami melakukan peninjauan ke beberapa desa yang terkena banjir bandang pada malam tanggal 2 Mei 2020. Dari hasil Asesmen di temukan daerah terparah adalah desa Bumi banyusari yang sangat parah, 194 rumah KK 679 jiwa terdampak dan mengalami kerusakan bahkan perkebunan mereka juga ikut terkena banjir dan gagal panen.

Selain itu desa Wuasa 49 KK 163 jiwa, Desa Kaduaa 42 KK 189 jiwa, desa Watumaeta 9 KK 36 jiwa, desa Alitipu 7 KK 27 jiwa.

Hal ini di perburuk dengan putusnya aliran Air bersih yang masuk ke desa tersebut. Kini masyarakat sangat membutuhkan Sembako, Air bersih dan selimut.
Saat kunjungan dan Asesmen FPI - Hilmi  Sulteng bersama DPW FPI Poso menyodorkan bantuan Indomie dan telur dari otungan dana dari tim yang berangkat.

Kami minta bantuan FPI untuk menyalurkan bantuan sembako, air bersih dan kl boleh selimut untuk warga kami ungkap Sekretaris desa Siti Fatimah.

Sambutan hangat dan penuh persaudaraan dari kepala desa Budi widioarto yang menerima relawan FPI - HILMI saat menyerahkan bantuan untuk masyarakat banyusari Terima kasih kepada FPI Krn selama musibah ini baru FPI yang memberikan bantuan dari luar desa kami ungkap sekdes.

Usai penyerahan bantuan FPI - Hilmi memutuskan untuk balik ke Poso sambil menyiapkan para relawan untuk di berangkatkan ke daerah bencana kecamatan Lore Utara sekaligus membawa bantuan kemanusiaan untuk mereka yang sedang tertimpa musibah.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan kasih sayang Allah SWT, ungkap ustadz Sugianto Ketua DPD FPI Sulteng di hadapan kades dan sekdes.











Sumber : DPW FPI Poso
Kontributor LIF Sulawesi Tengah
Sebarkan Lewat:

Tambahkan Komentar:

0 komentar, tambahkan komentar Anda