FPI Online - Wamena, Front Pembela Islam (FPI) melalui sayap juangnya Hilal Merah Indonesia (HILMI) kembali menyalurkan bantuan tahap I untuk korban Wamena di Posko Pengungsian di Rindam XVII Cendrawasih, Papua, pada 29 September 2019.

Perwakilan DPP HILMI-FPI di Papua juga menceritakan kronologis kejadian yang ada di wamena, Syarifah Masyitha Fachia Al-Hamid beliau menjelaskan bagaimana kerusuhannya tersebut terjadi sebagai berikut.

Berbagai berita, tentang kerusuhan di Papua, belakangan ini sentak berubah dengan adanya kejadian kerusuhan di Wamena. Kab. Jayawijaya ibu kota-Nya Wamena, yang di huni oleh masyarakat majemuk dari berbagai komunitas suku, rasa, agama dan adat-istiadat. Kehidupan masyarakat sangat damai sebelum terjadinya konflik.

Dari penelusuran, TIM HILMI, diperoleh testimoni dari berbagi kelompok masyarakat yang eksodus dari Wamena ke Jayapura diperoleh informasi bahwa awal dari kerusuhan ditandai dengan beredarnya berita di kalangan penduduk Asli Wamena bahwa ada seorang Guru yang menyatakan kalimat Rasis sebagaimana yang terjadi di Surabaya. Namun sesungguhnya berita tersebut sudah di klarifikasi di Polres Wamena, hal sengaja di hembuskan untuk memancing keterlibatan masyarakat OAP (bc.Orang Asli Papua), agar terlibat dalam aksi.

Baca Juga : DPW FPI Poso Turun Ke Jalan Galang Dana Untuk Wamena Papua

Aksi yang semulanya dilakukan oleh kelompok pelajar dan masyarakat yg berencana mendatangi Kantor Bupati Wamena berujung pada penggiringan Siswa Sekolah agar ikut dalam Aksi tersebut. Tanpa disadari ada penolakan dari pihak sekolah yg pada akhirnya masa memaksa dan membakar sekolah agar siswa-siswi tidak memiliki pilihan untuk tidak ikut dalam rombongan perusuh.

Kerusuhan, yang semula melegitimasi identitas, berubah menjadi pembakaran Pemukiman dan pusat bisnis Mikro masyarakat. Seluruh kota Wamena menjadi kota yg diliputi oleh kobaran api dimana-mana. Masyarakat yg kena dampak mulai panik menyelamatkan diri dari amukan massa yang sangat emosional dan tak terkendali. Suasana jadi mencekam, seluruh Masyarakat Pendatang tanpa melihat Suku dan Agama menjadi sasaran amukan kelompok perusuh. Aparat berusaha mengamankan berbagai masyarakat yang terkena dampak kerusuhan, namun untuk itu pembakaran terjadi di mana-mana tanpa bisa diatasi.

Baca Juga : DPW FPI Poso Turun Ke Jalan Galang Dana Untuk Korban Gempa Bumi Ambon Maluku

Dari cerita Ibu Lili Nainggolan, bahwa kerusuhan yg terjadi diluar dugaan, karena hubungan antar masyarakat di Wamena sangat bersahaja. Pagi jam 8:00 kejadian mulai terjadi dengan penggalangan massa dan pelemparan ke Kendaraan dan rumah-rumah penduduk serta aparat. Dibalik kejadian terdapat cerita kemanusiaan yang sangat menyentuh hati. Terdapat diantara OAP (bc.Orang Asli Papua), turut memberikan perlindungan kepada masyarakat pendatang dengan menyembunyikan dan menggiring untk selamat di serahkan kepada aparat. Meraka berusaha agar para perusuh tidak mengetahui. Masyarakat Pendatang yang disembunyikan. Nilai kemanusiaan ini merupakan buah dari hubungan sosial yang sangat baik dalam masyarakat Majemuk. Ada Pendeta Asli Papua yg melindungi masyarakat yg sangat ketakutan saat menghadapi kerusuhan dan bapak kos yg di mana ibu Leni Nainggolan bertempat tinggal.

Hingga saat ini Eksodus dari Wamena, yang tiba di Jayapura dengan Pesawat Herkules TNI AU. Di letakan di 4 titik pengungsian yakni di LANUD TNI AU, Masjid Al-Aqsho Sentani Kab. Jayapura dan RINDAM XVII Cenderawasih. Yang kesemuanya menampung masyarakat terkena dampak kerusuhan Wamena tanpa melihat Suku Ras dan Agama.

Sebagaimana yang informasi yang didapat terakhir, dampak dari kerusuhan ini lebih kurang sebanyak 224 mobil dan 150 motor terbakar, 165 rumah warga terbakar serta 465 unit ruko dan 5 perkantoran utama terbakar. Melalui perwakilan Hilal Merah Indonesia yang berada di Papua, Keluarga besar Al-Hamid, yang berada di Jayapura bantuan tersebut berhasil diterima oleh Kolonel Heri di Rindam XVII Cendrawasih. Bantuan yang diberikan antara lain sikat gigi, odol, sabun mandi, sabun cuci, sampo, susu bayi, susu ibu hamil, pembalut wanita, pempers, sendal jepit, minyak kayu putih, minyak telon, dan lain sebagainya.

Dan juga dari Rumah Zakat, ACT, Yayasan Masyarakat, Muslim Freeport, Majelis Taqlim, BKPRMI, BAZNAS, Dompet Dhu’afa, serta dari paguyuban-paguyuban, memberikan bantuan ke posko dimana para korban kerusuhan wamena di ungsikan. Para Korban kerusuhan juga mengucapkan terima kasih kepada Rakyat Indonesia, khususnya kepada Hilal Merah Indonesia yang telah peduli dengan mengirimkan bantuan kepada mereka. Hilal Merah Indonesia tetap berkomitmen dalam misi kemanusiaan yang terjadi di wamena khususnya, dan berharap konflik yang terjadi saat ini segera selesai


Berikut Dokumentasi ketika Relawan HILMI-FPI menyerahkan bantuan untuk warga wamena yang di posko pengungsian Rindam XVII Cendrawasih, Papua.






Sumber: HILMI - FPI
Sebarkan Lewat:

Tambahkan Komentar:

0 komentar, tambahkan komentar Anda